VIVAnews - Di tengah maraknya trik photoshop dan penipuan online, orang selalu skeptis terhadap laporan tentang sesuatu yang aneh -- termasuk keberadaan janin hiu albino yang hanya memiliki satu mata. Tepat di tengah hidung, mirip Cyclops -- tokoh bermata satu dalam mitologi Yunani.
Namun, kabar keberadaan 'Hiu Cyclops' yang diambil dari janin induk yang ditangkap nelayan di Teluk Kalifornia awal musim panas tahun ini, adalah nyata.
Para peneliti Hiu telah menganalisis mahluk yang diawetkan itu. Para ilmuwan menemukan, mata tunggal mahluk itu memiliki jaringan optik yang fungsional.
Namun, para ahli memperkirakan, adalah tak mungkin mahluk unik itu bisa bertahan hidup ketika dilahirkan.
"Ini sangat langka," kata ahli Hiu, Felipe Galvan Magana kepada blog Pisces Fleet Sportfishing, Juli lalu. "Sepengetahuan saya, kurang dari 50 contoh abnormalitas seperti ini yang tercatat," kata dia.
Pisces Fleet, perusahaan penangkap ikan, mengunggah foto mahluk aneh nan lucu ini ke internet, yang langsung jadi kabar heboh.
Meski kasus ini jarang pada Hiu, fenomena 'cyclopia' pernah ditemukan pada beberapa mahluk. Kasus pada manusia terjadi pada 1982 di Israel, di mana seorang bayi perempuan lahir tujuh minggu lebih awal dari perkiraan. Dia lahir tanpa hidung, hanya ada satu mata di tengah. Bayi itu meninggal 30 menit setelah lahir. Kasus ini juga dibahas di British Journal of Ophthalmology. Juga pada Kucing. Pada 2006, seekor anak Kucing lahir dengan hanya satu mata dan hidung.
Ini bukan kali pertamanya sesuatu yang rasanya tak masuk akal, cenderung mitos, memperoleh dukungan bukti-bukti ilmiah. Baru-baru ini, pejabat Rusia mengumumkan temuan bukti keberadaan monster, Yeti. Sementara, para ahli palaeantologi mengumumkan temuan sarang Kraken -- monster pemangsa paus dan kapal berbentuk Cumi raksasa. (umi)
Tampilkan postingan dengan label Discovery. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Discovery. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 November 2011
Siput abalone
VIVAnews - Siput abalone menyimpan potensi untuk menjadi komoditas, karena nilai ekonominya yang tinggi. Tapi, jika penangkapannya berlebihan, dapat mengakibatkan kepunahan.
Oleh karena itu, inovasi teknologi budidaya abalone di Indonesia sangat penting ditingkatkan.
Hal itu disampaikan peneliti Puslit Oceanografi LIPI, Dwi Eny Djoko Setyono dalam orasi ilmiah berjudul, ‘Biologi dan Inovasi Teknologi Budi daya Abalon Tropis Untuk Meningkatkan Produksi Perikanan di Indonesia’, di gedung LIPI, Jakarta, Jumat 11 November 2011.
Dia menyampaikan, masa depan budi daya abalone sangat baik mengingat lahan yang cocok sangat luas. Makanan siput ini juga gampang dan bahan pakannya relatif murah. Makanan abalone ini berupa lumut, atau tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, dan minyak ikan.
“Pemerintah perlu menyosialisasikan usaha budidaya abalone tropis untuk menyejahterakan masyarakat,” ujarnya, Jumat, 11 November 2011.
Dalam pasar ekspor, abalone juga banyak diminati seperti, China, Jepang dan beberapa negara di Eropa. Bahkan di China, abalone kata Dwi, dijadikan suguhan resmi untuk tamu.
Harga abalone di pasar ekspor mencapai US$40 per kg untuk abalone hidup, US$66 per kg untuk daging abalone segar, US$80 per kg untuk abalone yang dikalengkan.
“Untuk budidaya ini bisa dimulai kecil saja, buat kolam ukuran 5 m2 sudah bisa. Yang penting airnya bersih,” sarannya.
Sampai saat ini, dia mengaku sudah mengembangkan pembenihan. Tahun depan akan melakukan studi pembesaran budidaya.
Meski demikian, dia merasa inovasi budidaya perlu dikembangkan. Masih banyak riset berkaitan dengan budidaya abalon perlu dilakukan, misalnya formulasi pakan buatan, pemilihan benih, aplikasi zat probiotik dan hormon pertumbuhan, dan kontrol penyakit.
Untuk melakukan penelitian juga diperlukan kerja tim yang terdiri dari, pakar nutrisi, biokimia, imunologi, mikrobiologi. Pemanfaatan abalone sampai saat ini hanya untuk konsumsi. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa dilanjutkan dengan pemanfaatan yang lain.
Di beberapa wilayah Indonesia, abalone diketahui telah mengalami kelebihan tangkapan. Untuk itu, dia mengharapkan pemerintah mengeluarkan peraturan untuk membatasi kuota maupun ukuran biota yang boleh ditangkap dari alam. (umi)
Oleh karena itu, inovasi teknologi budidaya abalone di Indonesia sangat penting ditingkatkan.
Hal itu disampaikan peneliti Puslit Oceanografi LIPI, Dwi Eny Djoko Setyono dalam orasi ilmiah berjudul, ‘Biologi dan Inovasi Teknologi Budi daya Abalon Tropis Untuk Meningkatkan Produksi Perikanan di Indonesia’, di gedung LIPI, Jakarta, Jumat 11 November 2011.
Dia menyampaikan, masa depan budi daya abalone sangat baik mengingat lahan yang cocok sangat luas. Makanan siput ini juga gampang dan bahan pakannya relatif murah. Makanan abalone ini berupa lumut, atau tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, dan minyak ikan.
“Pemerintah perlu menyosialisasikan usaha budidaya abalone tropis untuk menyejahterakan masyarakat,” ujarnya, Jumat, 11 November 2011.
Dalam pasar ekspor, abalone juga banyak diminati seperti, China, Jepang dan beberapa negara di Eropa. Bahkan di China, abalone kata Dwi, dijadikan suguhan resmi untuk tamu.
Harga abalone di pasar ekspor mencapai US$40 per kg untuk abalone hidup, US$66 per kg untuk daging abalone segar, US$80 per kg untuk abalone yang dikalengkan.
“Untuk budidaya ini bisa dimulai kecil saja, buat kolam ukuran 5 m2 sudah bisa. Yang penting airnya bersih,” sarannya.
Sampai saat ini, dia mengaku sudah mengembangkan pembenihan. Tahun depan akan melakukan studi pembesaran budidaya.
Meski demikian, dia merasa inovasi budidaya perlu dikembangkan. Masih banyak riset berkaitan dengan budidaya abalon perlu dilakukan, misalnya formulasi pakan buatan, pemilihan benih, aplikasi zat probiotik dan hormon pertumbuhan, dan kontrol penyakit.
Untuk melakukan penelitian juga diperlukan kerja tim yang terdiri dari, pakar nutrisi, biokimia, imunologi, mikrobiologi. Pemanfaatan abalone sampai saat ini hanya untuk konsumsi. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa dilanjutkan dengan pemanfaatan yang lain.
Di beberapa wilayah Indonesia, abalone diketahui telah mengalami kelebihan tangkapan. Untuk itu, dia mengharapkan pemerintah mengeluarkan peraturan untuk membatasi kuota maupun ukuran biota yang boleh ditangkap dari alam. (umi)
Sabtu, 23 April 2011
Rekor Dunia
| 24 Rekor Dunia yang sampai saat ini masih dipegang Indonesia |
| Disamping beberapa kekurangan yang sering melekat di tanah air kita Indonesia, namun ada puluhan rekor dunia yang patut kita banggakan sebagai warga negara Indonesia karena sampai saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor tersebut dari Indonesia. Berikut daftar 24 rekor dunia yang dimiliki Indonesia.
|
Langganan:
Postingan (Atom)


